Muara Muntai

Written by M.Napri on Monday November 19, 2018

Meski hanya sehari, saat mengawal pak Ahmad Herwansyah, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata Kalimantan Timur ke Muara Muntai, tapi aku melihat, kecamatan yang dulu berstatus kewedanaan ini sangat mungkin dukembangkan sebagai destinasi wisata unggulan Kutai Kertanegara bahkan Kalimantan Timur.

Muara Muntai sangat dekat dengan Danau Jantur yang molek. Dari sini juga bisa melihat ratusan ekor kerbau kalang yang hidup di rawa seakan kita berada di mancanegara. Dari sini pula Danau Jempang, danau terluas di Kaltim dengan mudah dicapai. Di ujungnya, kita bisa bertemu Tanjung Isuy, pemukiman suku Dayak yang terkenal dengan budaya dan rumah panjang atau lamin.

Aku mengibaratkan Jogja yang dikelilingi tempat-tempat wisata. Destinasi wisata itu tidak seluruhnya di kota Jogja bahkan di luar propinsi Jogja, tapi tidur, makan dan pusat oleh-olehnya di Jogja.

Muara Muntai bisa seperti itu, apalagi Muara Muntai adalah kecamatan yang memiliki badan jalan berkonstruksi kayu ulin 12 km panjangnya. Di sini juga bisa kita lihat bangunan-bangunan tua yang usianya lebih setengah abad.

Kepada pak Sopan Sopian, mantan Kades Muara Muntai Ulu yang kini jadi caleg Gerindra Dapil 6 Kukar yang menemaniku jalan-jalan, kuceritakan bahwa tahun 1975 aku sudah pernah tidur sekama seminggu di pendopo yang kini masih berdiri tegak, kecuali diganti atapnya.

Saat itu, pendopo itu kosong dan sudah dike al sebagai bangunan lama. Itu sudah 43 tahun lalu. Mungkin bangunan itu usianya sudah 79 tahunan.

"Pak Awang Faroek (mantan Gubernur Kaltim) pernah bercerita bahwa pendopo itu tempat bermainnya saat masih anak-anak karena ayahnya adalah Wedana di Muara Muntai yang membawahkan beberapa daerah." Kata Sopan Sopian.

"Selain itu, kalau mau belajar kehidupan harmoni, Muara Muntai adalah tempatnya. Ibukota kecamatan ini dihuni empat suku yang hidup saling berdampingan dan menyatu, yaitu orang-orang Cina, Bugis, Banjar dan Kutai. Mereka rukun, tenang, damai dan saling membantu." Jelas Sopian.

Sungguh aku terkesan dengan Muara Muntai, apalagi saat menginap di penginapan Abadi. Aku terkejut, penginapan 200 ribu per malam itu berpendingin udara, bersih, ada saraoan nasi kuning, toilet tersedia dua pilihan : duduk dan jongkok, di toilet tersedia handuk, pasta gigi, sabun, sampho, dan satu lagi minuman tinggal bikin sendiri.

Terima kasih pak Ahmad Herwansyah yang telah mengajakku ke sini. Terima kasih pula pak Sopan Sopian yang telah membayari makan nasi sop di warung spesial yaitu 'warung masuk rumah', kata pak Sopian menamakannya.***

-21118-

About author

author image
Syafruddin Pernyata

Penulis , traveler, pencinta kaltim, menulis di Unviersitas kehidupan