Desa Pela Kota Bangun

Written by M.Napri on Saturday September 28, 2019

Desa Pela yang terletak di bibir sungai Pela -- anak sungai Mahakam yang terhubung dengan danau Semayang-- di mataku sangat indah. Selain karena mudahnya melihat pesut di sini juga karena danau Semayang yang cantik itu amat indah dipandang terutama bila hari senja dan matahari istirahat di peraduannya. Sebagian.danau Semayang masuk wilayah desa Pela.

Keindahan danau Semayang inilah yang telah mengilhamiku menulis tiga buah Novel yang setting lokasinya antara lain desa Pela dan Danau Semayang. Novel itu adalah 1) Awan, 2) Aku Bulan Kamu Senja dan 3) Digdaya.

Di dalam novel DIGDAYA, nama Alimin kerap muncul, karena dia adalah salah seorang figurannya. Bahkan, sebuah bab, yaitu Bab ke 31 judulnya adalah, "Alimin Kecewa."

Akan halnya Rojali, aku mengenalnya juga di desa Pela. Meskipun rumahnya di desa Sangkuliman, sebuah desa di seberang desa Pela, namun ia biasa ke desa Pela karena Alimin adalah pamannya.

Rojali yang masih muda dan sudah dipercaya sebagai kepala sekolah SD 014 desa Kedang Murung Kecamatan Kota Bangun ini selalu men-support pamannya untuk mengembangkan desa Pela sebagai Desa Wisata.

Kepala Sekolah yang 'nyambi' sebagai petani walet ini kadang tak segan membantu pamannya, baik dukungan moral maupun finansial. Saat tahu bahwa pamannya akan ke Jakarta untuk menghadiri pemberian penghargaan itu, ia pun turut serta meski dengan biaya sendiri.

Aku sudah beberapa kali berdiskusi dengan Rojali tentang kemungkinan mengembangkan desa Kedang Murung sebagai destinasi wisata baru. Desa Kedang Murung juga indah karena memiliki danau di belakang pemukiman warganya. Danau itu, bila air pasang, tak kalah indahnya dengan Raja Ampat Papua. Sebuah danau dengan lima pulau-pulau kecil di dalamnya. Keindahan Danau Kedang Murung itu pernah kuposting foto-foto dan videonya.

Demikianlah cerita kedua orang yang kukagumi ini. Karena kagumnya, aku berdaya upaya menahan kantuk Jumat Malam kemarin saat keduanya menyatakan akan ke rumah. Kami 'ngobrol' sana-sini hingga tak terasa malam telah bergeser ke dini hari. Aku pun pura-pura menguap dan serta merta mereka pamit diri.

Aku tidak mengantuk. Aku hanya kasihan, karena kedua orang yang baru tiba dari Jakarta ini pasti sudah ditunggu kedua bininya dan anak-anaknya yang sangat mencintai keduanya.

About author

author image
Syafruddin Pernyata

Penulis , traveler, pencinta kaltim, menulis di Unviersitas kehidupan